Google Kehilangan Karyawan karena Menggaji Terlalu Banyak
Jumat, 17 Februari 2017 13:05 WIB
Waymo mobil swakemudi dari Google (https://waymo.com/press/)
Jakarta, ANTARA JATENG - Beberapa tahun ini proyek mobil Google menyaring banyak bakat dengan memikat ahli teknologi self-driving saingan. Dan, kekuatan yang mendorong orang untuk keluar tidak lain adalah uang.
Karyawan diberikan sistem kompensasi yang tidak biasa dengan gaji super besar berdasarkan nilai proyek. Pada akhir 2015, angka gaji begitu besar sampai-sampai sejumlah karyawan lama tidak perlu kerja lagi, yang membuat mereka membuka diri untuk kesempatan lain.
Menurut laman Independent, pada bulan Desember, unit mobil Google berubah menjadi bisnis mandiri yang disebut Waymo, dan sistem tersebut diganti dengan gaji yang lebih seragam untuk memperlakukan semua karyawan dengan sama.
Namun, program asli begitu mahal yang menyebabkan eksekutif Alphabet menjadi sorotan tahun lalu untuk menjelaskan lonjakan biaya. Juru biacara Alphabet, perusahaan induk Google, menolak berkomentar.
Pembayaran tersebut berkontribusi untuk membuat bakat mengundurkan diri saat perusahaan sedang berusaha untuk mengubah proyek menjadi bisnis yang nyata, dan muncul saingan berat merekrut mereka.
Masa-masa itu menyoroti transisi sulit Alphabet dari perusahaan iklan digital menjadi perusahaan teknologi yang terdiversifikasi dengan kelompok bervariasi dari karyawan yang membutuhkan insentif yang berbeda.
Bisnis baru lainnya, termasuk unit pelayanan kesehatan Verily, menggunakan sistem kompensasi yang berbeda pula, tapi mereka belum memberikan gaji besar seperti proyek mobil.
Sistem ortodoks dimulai pada tahun 2010, setelah Google meluncurkan kendaraan self-driving pertama. Ini dilakukan untuk mengikat karyawan pada proyek tersebut. Selain gaji tunai, beberapa staf diberi bonus dan ekuitas dalam bisnis.
Setelah beberapa tahun, Google menerapkan multiplier untuk memberi penghargaan dan membayar sebagian atau keseluruhan dari itu. Multiplier tersebut berdasarkan penilaian periodik divisi tersebut.
Karyawan diberikan sistem kompensasi yang tidak biasa dengan gaji super besar berdasarkan nilai proyek. Pada akhir 2015, angka gaji begitu besar sampai-sampai sejumlah karyawan lama tidak perlu kerja lagi, yang membuat mereka membuka diri untuk kesempatan lain.
Menurut laman Independent, pada bulan Desember, unit mobil Google berubah menjadi bisnis mandiri yang disebut Waymo, dan sistem tersebut diganti dengan gaji yang lebih seragam untuk memperlakukan semua karyawan dengan sama.
Namun, program asli begitu mahal yang menyebabkan eksekutif Alphabet menjadi sorotan tahun lalu untuk menjelaskan lonjakan biaya. Juru biacara Alphabet, perusahaan induk Google, menolak berkomentar.
Pembayaran tersebut berkontribusi untuk membuat bakat mengundurkan diri saat perusahaan sedang berusaha untuk mengubah proyek menjadi bisnis yang nyata, dan muncul saingan berat merekrut mereka.
Masa-masa itu menyoroti transisi sulit Alphabet dari perusahaan iklan digital menjadi perusahaan teknologi yang terdiversifikasi dengan kelompok bervariasi dari karyawan yang membutuhkan insentif yang berbeda.
Bisnis baru lainnya, termasuk unit pelayanan kesehatan Verily, menggunakan sistem kompensasi yang berbeda pula, tapi mereka belum memberikan gaji besar seperti proyek mobil.
Sistem ortodoks dimulai pada tahun 2010, setelah Google meluncurkan kendaraan self-driving pertama. Ini dilakukan untuk mengikat karyawan pada proyek tersebut. Selain gaji tunai, beberapa staf diberi bonus dan ekuitas dalam bisnis.
Setelah beberapa tahun, Google menerapkan multiplier untuk memberi penghargaan dan membayar sebagian atau keseluruhan dari itu. Multiplier tersebut berdasarkan penilaian periodik divisi tersebut.
Pewarta : Arindra Meodia
Editor :
Copyright © ANTARA 2025
Terkait
KPU: Warga Demak kehilangan KTP akibat banjir perlu dibuatkan KTP baru
19 February 2024 20:15 WIB, 2024
Update dukun maut Banjarnegara, polisi terima laporan kehilangan 28 orang
15 April 2023 5:51 WIB, 2023
Pekerja PKWT berhenti kerja, ini aturan untuk Jaminan Kehilangan Pekerjaan
08 February 2023 15:26 WIB, 2023
Alfiansyah, kehilangan orang tua di tragedi Kanjuruhan yang ingin jadi polisi
03 October 2022 15:29 WIB, 2022
Polda Jateng berikan tali asih 427 anak kehilangan orang tua akibat COVID
18 April 2022 21:22 WIB, 2022
Anggota Komisi IX DPR pastikan kesiapan JKP sejumlah perusahaan di Soloraya
24 March 2022 10:30 WIB, 2022
Terpopuler - IT
Lihat Juga
Bidik generasi muda, BSI gelar literasi digital di sejumlah pusat perbelanjaan Jabodetabek
22 November 2024 13:23 WIB