Purwokerto (ANTARA) - Perum Bulog Cabang Banyumas membentuk enam tim untuk mendukung penyerapan gabah hasil panen petani di wilayah eks Keresidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, Jawa Tengah.
"Kami membuat enam tim yang terjun ke lapangan, bekerja sama dengan TNI khususnya Babinsa (Bintara Pembina Desa) dan Danramil, (Komandan Rayon Militer)," kata Pemimpin Perum Bulog Cabang Banyumas Prawoko Setyo Aji di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.
Menurut dia, pembentukan tim tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi daerah-daerah mana yang akan panen maupun yang sudah memasuki masa panen.
Selain itu, melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah, dinas pertanian, maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) di wilayah kerja Bulog Banyumas untuk menginformasikan bahwa Bulog membeli gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.
"Gabah kering panen ini maksudnya adalah gabah yang bersih, tanpa kotoran dan sebagainya, sudah dikarungi, serta sudah berada di pinggir jalan, sehingga siap angkut. Nanti kami beli dan dibawa ke mitra untuk proses penggilingan," katanya menjelaskan.
Ia mengakui hingga saat ini masa panen di wilayah eks Keresidenan Banyumas belum merata karena masih spot-spot mengingat panen raya diperkirakan akan berlangsung mulai pekan kedua bulan Maret 2025.
Kendati demikian, dia mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mampu menyerap gabah sebanyak 86 ton yang dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram dan beras sebesar 4.500 ton yang dibeli dengan harga Rp12.000 per kilogram.
"Memang kami kadang terkendala hujan dalam penyerapan gabah hasil panen petani. Ketika sudah janjian untuk melakukan transaksi, ternyata panennya belum selesai akibat adanya hujan disertai petir, sehingga transaksinya tertunda," katanya.
Akan tetapi, kata dia, pihaknya terus ke lapangan untuk melakukan penyerapan gabah hasil panen petani supaya harga di tingkat petani tetap stabil.
Ia mengakui berdasarkan pantauan di lapangan, ada beberapa pihak yang membeli gabah hasil panen petani dengan harga di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang sebesar Rp6.500 per kilogram.
"Sesuai filosofi kita dan perintah Pak Presiden Prabowo Subianto 'kan untuk menyejahterakan petani. Jadi kalau ada yang beli di atas itu ya silakan, berarti petaninya lebih sejahtera, tetapi harga pembeliannya tidak boleh di bawah HPP, harga pembeliannya minimal Rp6.500 per kilogram," katanya.
Oleh karena panennya masih spot-spot, kata dia, harga gabah saat ini masih berada di kisaran Rp6.500-Rp6.700 per kilogram.
Dalam hal ini, lanjut dia, gabah yang dibeli dengan harga Rp6.700 per kilogram merupakan jenis gabah khusus untuk dijadikan beras kualitas premium seperti Mentik Wangi dan Pandanwangi..
"Pada prinsipnya, kami siap menyerap atau membeli gabah hasil panen petani di wilayah eks Keresidenan Banyumas," kata Prawoko.
Baca juga: Bulog serap panen perdana petani di Semarang sesuai HPP