Logo Header Antaranews Jogja

BLH belum pastikan penyebab kematian ikan sungai

Minggu, 29 Mei 2016 18:44 WIB
Image Print

Bantul (Antara Jogja) - Badan Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta belum dapat memastikan penyebab kematian ratusan ikan di Sungai Bedog yang melintasi wilayah Kecamatan Kasihan dan Pajangan, Kabupaten Bantul, Minggu dini hari.

"Kami belum berani memastikan penyebabnya (matinya ratusan ikan) karena harus dilakukan uji sampel terlebih dahulu," kata Kepala Subidang Pengendalian Pencemaran Air dan Tanah, Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY Reni Anggraini di Bantul, Minggu.

Ratusan ikan-ikan di?aliran sungai Bedog dilaporkan warga mengalami kematian massal pada hari Minggu (29/5) dini hari. Warga menduga ikan-ikan tersebut mati karena keracunan limbah cair yang dibuang dari pabrik gula di Madukismo Kasihan yang sedang dalam masa giling tebu.

Menurut dia, untuk mengetahuhi kepastian itu, tidak bisa hanya dilakukan di sungai, tetapi harus dari sumbernya sebab limbah yang mencemari sungai berasal dari berbagai sumber, baik industri maupun rumah tangga.

"Kami melakukan pengecekan kualitas air ini secara berkala, tiga kali dalam setahun. Memang sungai ini memiliki kandungan Biological Oxygen Demand dan bakteri?e-coli yang sangat tinggi dan jarang turun," katanya.

Sementara itu, warga Guwasari, Pajangan, Bantul Faizal Afnan mengatakan bahwa matinya ikan di Sungai Bedog itu pertama kali diketahui warga sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu dirinya bersama rekannya berencana membuat sebuah dokumentasi untuk membuat profil Desa dan Karang Taruna.

"Namun, saat tiba di kali (sungai), ternyata banyak ikan yang?`klenger`?dan mati. Mengetahui kejadian itu, warga kemudian menangkap ikan-ikan yang mati tersebut," katanya.

Meski tidak mengetahui secara pasti penyebabnya, warga menduga matinya ikan secara massal itu disebabkan oleh limbah pabrik gula dan spritus yang terletak di Kecamatan Kasihan.

Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan bahwa Pemkab menyadari adanya keluhan dari warga terkait dengan limbah pabrik gula dan spritus tersebut.

Meski begitu, pihaknya mengupayakan agar pabrik itu berkomitmen memperbaiki pengolahan limbahnya.

"Kami sedang mengupayakan melalui komitmen bersama agar ada solusi akan hal ini. Setidaknya limbah tidak dibuang ke sungai dalam bentuk kasar seperti sekarang," katanya.

Walau demikian, pihaknya juga menyadari jika untuk menyelesaikan permasalahan limbah tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Oleh sebab itu, pemkab memberikan waktu bagi pabrik untuk membangun instalasi limbah yang lebih baik.

"Kami yakin dengan komitmen ini maka permasalahan ini bisa teratasi," katanya.

KR-HRI



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026