Logo Header Antaranews Jogja

Kenaikan tarif masuk Borobudur dinilai belum tepat

Rabu, 8 Juni 2022 17:57 WIB
Image Print
Wisatawan melintas di pelataran candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (7/6/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom. (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR Evita Nursanty menilai rencana kenaikan tarif masuk ke Borobudur sebesar Rp750.000 untuk wisatawan domestik dan 100 dolar AS (sekitar Rp1.450.000) untuk wisatawan mancanegara (wisman) belum tepat dilakukan saat ini.

Kendati rencana kenaikan tarif tersebut sudah ditunda oleh pemerintah, Evita menilai hal tersebut sangat berlawanan dengan semangat pemulihan ekonomi dan pariwisata, dan sebagai warisan (heritage) , masyarakat juga diberikan hak untuk menikmati warisan masa lalu itu.

"Saya sarankan ditunda dulu. Jangan sekarang saat ekonomi dan pariwisata kita sedang rebound setelah sekian lama mengalami kesulitan akibat pandemi," katanya lewat keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Anggota DPR dari Dapil Jateng III itu mengingatkan Borobudur merupakan tempat ibadah bagi pemeluk agama Buddha, sehingga tidak seharusnya diberi tarif tinggi.

Evita pun menegaskan dirinya sangat mendukung upaya konservasi candi sehingga tidak mengalami kerusakan.

Namun upaya tersebut bisa dilakukan dengan membuat dan menerapkan peraturan yang tegas dan ketat sebagaimana dilakukan oleh negara-negara lain terhadap heritage mereka.

"Misalnya hanya boleh di lantai berapa, atau pembatasan berapa orang ke lantai tertentu, wajib memakai sandal, anak-anak tidak boleh berlarian, itu bisa diatur," katanya.



Pewarta :
Editor: Bambang Purwanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026