
Bulog Pati serap 1.363 ton gabah kering panen

Kudus (ANTARA) - Perum Bulog Cabang Pati, Jawa Tengah, hingga pekan ini sudah melakukan penyerapan 1.363 ton gabah petani dari Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Rembang dan Blora dengan harga sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
"Selain menyerap gabah dari petani langsung. Perum Bulog Cabang Pati juga melakukan penyerapan beras sampai dengan tanggal 26 Februari 2025 tercatat sebanyak 4.623 ton," kata Pimpinan Cabang Perum Bulog Pati Nur Hardiansyah di Kudus, Kamis.
Ia memastikan penyerapan terus bertambah karena belum semua wilayah mulai panen.
Misal, di Kabupaten Kudus yang lebih dahulu panen di Kecamatan Kaliwungu. Beberapa kecamatan lain kini menyusul mulai panen, seperti Kecamatan Gebog dan Kecamatan Undaan yang merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Kudus.
Penyerapan gabah di Kabupaten Kudus sendiri secara perdana dimulai di Desa Gamong pada 14 Februari 2025 karena petani setempat mulai panen.
Sesuai Instruksi Presiden Prabowo Subianto, Perum Bulog mendapatkan mandat untuk menyerap gabah petani.
Gabah yang dibeli dari petani tersebut, selanjutnya diproses di tempat jasa penggilingan padi terdekat yang memiliki fasilitas pengeringan gabah.
Sebelum beras dimasukkan ke gudang Bulog maka Bulog juga melakukan pengecekan kualitas berasnya. Karena selama ini beras yang ditampung harus memenuhi persyaratan kadar air, butir patah, kadar menir dan derajat sosoh.
Untuk itulah, sebelum menyerap gabah yang ditawarkan petani, tim dari Bulog juga turun melakukan analisis kualitas gabah yang hendak dibeli agar saat diproses menjadi beras memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
Para petani sangat diuntungkan adanya program penyerapan gabah tersebut, karena harga yang diterima petani benar-benar riil sebesar Rp6.500/kilogram untuk GKP. Sedangkan sebelumnya gabah petani hanya dihargai tengkulak sekitar Rp6.000/kg.
Adanya program penyerapan gabah petani dari pemerintah melalui Bulog, diharapkan petani bisa lebih sejahtera karena pembeliannya juga sesuai HPP.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Didik Tri Prasetiyo mengungkapkan setiap hektare tanaman padi bisa menghasilkan 6,6 ton GKP.
Sedangkan luas areal tanam pada musim tanam (MT) pertama yang dimulai sejak September 2024 hingga Januari 2025 mencapai 11.798 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan.
Untuk luas areal panen pada bulan Februari 2025 diperkirakan mencapai 6.204 hektare yang tersebar di sembilan kecamatan.
Sementara bulan Maret 2025 diperkirakan seluas 2.094 hektare, karena waktu panen disesuaikan saat awal tanam sehingga masing-masing wilayah berbeda-beda.
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2025