
Dinkes Yogyakarta menggencarkan surveilans antisipasi virus Nipah

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menggencarkan surveilans di seluruh puskesmas dan kelurahan untuk mengantisipasi masuknya virus Nipah.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta Solikhin Dwi Ramtana mengatakan penguatan surveilans dilakukan melalui pemantauan rutin di fasilitas layanan kesehatan serta pelaporan kejadian di lapangan.
"Kita menggunakan dua metode surveilans. Yang pertama, indicators based surveillance (IBS) atau surveilans berbasis indikator, kemudian yang kedua, event-base surveillance (EBS) atau surveilans berbasis kejadian," ujar Solikhin saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis.
Melalui IBS, Dinkes Yogyakarta memantau kunjungan pasien di puskesmas berdasarkan keluhan dan gejala klinis yang dicatat dokter pemeriksa. Data tersebut dipantau secara rutin untuk melihat tren penyakit, terutama yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.
Pemantauan, kata Solikhin, juga dilakukan setiap hari terhadap kasus influenza-like illness (ILI) atau penyakit dengan gejala menyerupai influenza serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sementara itu, EBS dilakukan melalui petugas surveilans kelurahan yang aktif di lapangan untuk menangkap informasi kejadian kesehatan di masyarakat dan segera melaporkannya kepada Dinkes.
"Selain identifikasi, surveilans juga untuk pencegahan dini agar tidak menyebar dan menularkan ke tempat lain atau ke orang lain," ujar dia.
Solikhin menyebutkan berdasarkan hasil surveilans pekan ini tercatat 31 kasus pneumonia, satu kasus ILI, serta 200 kasus ISPA per 5 Februari 2025.
Dalam konteks kewaspadaan di fasilitas layanan kesehatan, Solikhin menyebut penerapan alat pelindung diri (APD) disesuaikan dengan tingkat risiko. Petugas kesehatan tetap menggunakan APD sesuai standar saat melakukan pelayanan dan pemeriksaan pasien.
"Kalau petugas kesehatan itu harus menggunakan APD karena melakukan tata laksana dan bersentuhan dengan cairan atau droplet pasien," ujarnya.
Menurut dia, gejala klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut, kemudian bisa berkembang menjadi gangguan saraf, seperti penurunan kesadaran dan kejang.
Virus tersebut juga dapat menyerang otak dan memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Meskipun belum ditemukan kasus Nipah di Indonesia, ia berharap kewaspadaan masyarakat tetap dijaga dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Masyarakat tidak perlu panik, tetapi waspada. Faktor risiko ada, tetapi tidak setinggi di tempat yang sekarang ini lagi ada kasus, di Indonesia belum ada," ujar dia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dinkes Yogyakarta gencarkan surveilans antisipasi virus Nipah
Pewarta : Luqman Hakim
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
