Keluarga Penumpang MH370 Desak Malaysia dan China Berbuat Lebih
Jumat, 22 Juli 2016 8:46 WIB
Seorang kerabat korban kecelakaan pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 menangis saat ia berkumpul dengan yang lain untuk berdoa di Kuil Yonghegong Lama, di Beijing, China, Senin (8/9), pada peringatan enam bulan setelah pesawat tersebut
Kualalumpur, Antara Jateng - Keluarga penumpang pesawat MH370 Malaysia Airlines, Kamis, mendesak pemerintah meningkatkan perburuan atas pesawat hilang itu, sehari sebelum pertemuan saat para menteri dapat memutuskan menghentikan pencarian itu.
Menteri Malaysia, China, dan Australia dijadwalkan bertemu di Kuala Lumpur, Jumat, untuk membahas masa depan pencarian MH370 itu, yang hilang dalam penerbangan dari ibu kota Malaysia ke Beijing pada Maret 2014 dengan membawa 239 orang.
Hampir 180 juta dolar Australia (lebih dari 1,3 triliun rupiah) dihabiskan untuk pencarian di laut, yang mencakup 120.000 kilometer persegi di Samudera Hindia selatan. Ini biaya SAR termahal dalam sejarah penerbangan internasional.
Jacquita Gonzales, istri pramugara MH370 Patrick Gomes, menyatakan China dan Malaysia tidak memberikan iuran cukup untuk upaya pencarian itu, yang digalang Badan Keselamatan Angkutan Australia.
"China, Anda bisa berbuat lebih. Saya minta maaf karena begitu terbuka tapi Anda memiliki yang paling dipertaruhkan di sini," katanya, dalam jumpa pers.
Sebagian besar penumpang MH370 adalah warga negara China.
"Malaysia, Anda perlu melakukan sedikit lebih dan tidak hanya mengatakan 'Saya sangat menyesal, kami kekurangan dana, tidak ada tempat lain untuk pencarian'," kata Gonzales.
KS Narendran, yang istrinya adalah penumpang MH370, menyeru pemerintah Malaysia mencari bantuan dalam mendapatkan pendanaan.
"Negara ini dan pemimpinnya memiliki teman kaya. Oleh karena itu, saya kira benar-benar harus tidak ada alasan untuk kekurangan dana," katanya.
Ketiga pemerintah itu sebelumnya sepakat bahwa kecuali ada bukti baru pasti muncul, mereka tidak akan memperpanjang pencarian, yang semula dijadwalkan berakhir pada Juni, tetapi terhambat cuaca buruk dan diperkirakan dilanjutkan pada Desember.
Menteri Malaysia, China, dan Australia dijadwalkan bertemu di Kuala Lumpur, Jumat, untuk membahas masa depan pencarian MH370 itu, yang hilang dalam penerbangan dari ibu kota Malaysia ke Beijing pada Maret 2014 dengan membawa 239 orang.
Hampir 180 juta dolar Australia (lebih dari 1,3 triliun rupiah) dihabiskan untuk pencarian di laut, yang mencakup 120.000 kilometer persegi di Samudera Hindia selatan. Ini biaya SAR termahal dalam sejarah penerbangan internasional.
Jacquita Gonzales, istri pramugara MH370 Patrick Gomes, menyatakan China dan Malaysia tidak memberikan iuran cukup untuk upaya pencarian itu, yang digalang Badan Keselamatan Angkutan Australia.
"China, Anda bisa berbuat lebih. Saya minta maaf karena begitu terbuka tapi Anda memiliki yang paling dipertaruhkan di sini," katanya, dalam jumpa pers.
Sebagian besar penumpang MH370 adalah warga negara China.
"Malaysia, Anda perlu melakukan sedikit lebih dan tidak hanya mengatakan 'Saya sangat menyesal, kami kekurangan dana, tidak ada tempat lain untuk pencarian'," kata Gonzales.
KS Narendran, yang istrinya adalah penumpang MH370, menyeru pemerintah Malaysia mencari bantuan dalam mendapatkan pendanaan.
"Negara ini dan pemimpinnya memiliki teman kaya. Oleh karena itu, saya kira benar-benar harus tidak ada alasan untuk kekurangan dana," katanya.
Ketiga pemerintah itu sebelumnya sepakat bahwa kecuali ada bukti baru pasti muncul, mereka tidak akan memperpanjang pencarian, yang semula dijadwalkan berakhir pada Juni, tetapi terhambat cuaca buruk dan diperkirakan dilanjutkan pada Desember.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024
Terkait
Terpopuler - Gadget
Lihat Juga
Prancis: Keputusan Donald Trump "Risiko Serius" bagi Tatanan Perdagangan Global
01 February 2017 6:29 WIB, 2017