Kini, MEA Sudah Bukan Momok Bagi UKM
Kamis, 29 September 2016 14:54 WIB
Perajin menyelesaikan proses pembuatan batik di industri rumahan batik di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (29/2). Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) selain menciptakan iklim usaha yang kondusif guna membantu pelaku UMKM Kementerian Koperasi d
Semarang, Antara Jateng - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah menyatakan pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai sejak awal tahun ini sudah bukan menjadi momok bagi usaha kecil dan menengah (UKM).
"Melihat tumbuh kembang UKM sejauh ini sudah selaras dengan apa yang diinginkan oleh pasar global," kata Kepala Disperindag Jawa Tengah Priyo Anggoro di Semarang, Kamis.
Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi pelaku UKM yang ada di Jawa Tengah. Di sisi lain, Jawa Tengah memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memungkinkan untuk produksi lebih banyak.
"Kami juga aktif membuka akses pasar asing kepada para pelaku UKM ini. Sejauh ini antusiasme konsumen pasar asing terhadap produk kita cukup baik," katanya.
Sebagai contoh, Priyo menceritakan beberapa waktu lalu mengajak pelaku UKM mengikuti pameran di Thailand. Salah satu produk yang dibawa adalah kerupuk udang, ternyata penjualannya sangat bagus.
"Melihat produk ini sepertinya biasa, tetapi kita punya keunggulan bahwa bahan baku ini tidak semua daerah tersedia," katanya.
Meski demikian, untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, pihaknya berharap agar SDM terus difasilitasi baik dari sisi pendanaan maupun teknisnya.
Diakuinya, dari sisi merek maupun kualitas produk sebetulnya hasil produksi pelaku UKM Jawa Tengah tidak kalah dengan produk UKM dari daerah lain.
"Ke depan, jadikan Jawa Tengah ini sebagai pusat industri dan pusat perdagangan. Ini tantangan buat kita, baik Pemerintah maupun pelaku usaha," katanya.
Pihaknya juga berharap agar perbankan menangkap peluang tersebut, salah satunya dengan upaya menyalurkan pembiayaan untuk tambahan modal bagi pelaku UKM.
"Melihat tumbuh kembang UKM sejauh ini sudah selaras dengan apa yang diinginkan oleh pasar global," kata Kepala Disperindag Jawa Tengah Priyo Anggoro di Semarang, Kamis.
Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan bagi pelaku UKM yang ada di Jawa Tengah. Di sisi lain, Jawa Tengah memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memungkinkan untuk produksi lebih banyak.
"Kami juga aktif membuka akses pasar asing kepada para pelaku UKM ini. Sejauh ini antusiasme konsumen pasar asing terhadap produk kita cukup baik," katanya.
Sebagai contoh, Priyo menceritakan beberapa waktu lalu mengajak pelaku UKM mengikuti pameran di Thailand. Salah satu produk yang dibawa adalah kerupuk udang, ternyata penjualannya sangat bagus.
"Melihat produk ini sepertinya biasa, tetapi kita punya keunggulan bahwa bahan baku ini tidak semua daerah tersedia," katanya.
Meski demikian, untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, pihaknya berharap agar SDM terus difasilitasi baik dari sisi pendanaan maupun teknisnya.
Diakuinya, dari sisi merek maupun kualitas produk sebetulnya hasil produksi pelaku UKM Jawa Tengah tidak kalah dengan produk UKM dari daerah lain.
"Ke depan, jadikan Jawa Tengah ini sebagai pusat industri dan pusat perdagangan. Ini tantangan buat kita, baik Pemerintah maupun pelaku usaha," katanya.
Pihaknya juga berharap agar perbankan menangkap peluang tersebut, salah satunya dengan upaya menyalurkan pembiayaan untuk tambahan modal bagi pelaku UKM.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025
Terkait
Kapolri: Kebijakan MEA bisa Dimanfaatkan untuk Melakukan Kejahatan Lintas Negara
24 May 2016 15:25 WIB, 2016