Logo Header Antaranews Jateng

Melihat dongeng masa lalu yang dituturkan melalui wayang kartun

Senin, 13 Maret 2023 08:50 WIB
Image Print
Pegiat seni Kie Art, Slamet Santosa memainkan wayang kartun dengan lakon "Dongeng 113 Tahun Ujungan Sidareja" dalam rangka Hari Dongeng Sedunia yang digelar Kie Art di Cartoon Village, Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (11/3/2023) malam. ANTARA/Sumarwoto
Purbalingga (ANTARA) - Musik gamelan yang memainkan tembang Ricik-Ricik Banyumas terdengar memecahkan keheningan malam di Dusun Peninis, Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Alat musik tradisional itu dimainkan oleh anak-anak usia sekolah dasar yang tergabung dalam Kie Karawitan Alit. Musik tradisional itu menjadi pembuka pergelaran wayang kartun yang diselenggarakan oleh Kie Art di Cartoon Village Sidareja dalam rangka Hari Dongeng Sedunia.

Wayang kartun yang dimainkan itu terbuat dari kertas karton dengan dibentuk seperti halnya wayang kulit, namun tokoh-tokoh yang dihadirkan berupa karikatur manusia.

Usai memainkan tiga judul tembang tradisional, permainan alat musik gamelan itu diambil alih oleh Kie Karawitan Ageng guna mengiringi pergelaran wayang kartun dengan lakon "Dongeng 113 Tahun Ujungan Sidareja" yang dimainkan oleh dalang Ki Slamet Santosa,  pegiat seni Kie Art.

Sementara, anak-anak Kie Karawitan Alit duduk bersama dengan bocah-bocah lainnya untuk menyaksikan wayang kartun yang menceritakan tentang sejarah seni ujungan yang lahir dan berkembang di desa mereka.

Kendati baru kali pertama mendalang, jiwa seni yang mengalir pada diri Slamet Santosa membuatnya tak kesulitan dalam memainkan wayang-wayang kartun buatan anak-anak Kie Kartun yang notabene binaannya.

Dengan menggunakan bahasa Jawa yang kadang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia serta komedi segar, Slamet Santosa menuturkan dongeng tentang asal mula Desa Sidareja melalui wayang kartun itu. Narasi lisan tersebut mampu "menghipnotis" penonton, khususnya anak-anak, hingga pergelaran tersebut tuntas.

Cerita tentang asal mula Desa Sidareja itu dikemas dalam bentuk dongeng karena hingga saat ini, sejarah desa tersebut masih dalam proses penjajakan dan pengumpulan data guna memperjelas sejarah masa lalu.

Oleh karena data yang terkumpul baru mencapai kisaran 60 persen, maka dibangunlah sebuah dongeng yang terkonsep dengan permulaan yang jenaka tentang adanya perselisihan dua wanita dari Dusun Peninis dan Dusun Pecatutan, masing-masing merupakan penjaja makanan tradisional yang terbuat dari ketela, yakni ondol dan ciwel.

Dalam dongeng yang disusun oleh pegiat seni Kie Art, Gita Yohanna Thomdean, itu terselipkan edukasi tentang makanan tradisional lengkap dengan filosofinya.

Dongeng 113 Tahun Ujungan Sidareja itu juga menuturkan tentang pertikaian antarwarga Dusun Peninis dan Dusun Pecatutan karena, konon, dua dusun tersebut memiliki banyak orang sakti sehingga diadakan adu ketangkasan ujungan untuk menyelesaikan pertikaian yang sering terjadi di antara mereka.

Oleh karena tidak ada yang menang maupun kalah, pertikaian tersebut diakhiri dengan perdamaian dan kesepakatan untuk membentuk sebuah desa dengan nama Sidareja, yang berarti bentuk pembuktian desa yang bijaksana dengan menitikberatkan pada tepa selira, tidak ingin menyakiti pihak lain, serta berharap dapat hidup rukun damai dan sejahtera.

Salah seorang penonton, Hafiz, mengaku senang dengan adanya wayang kartun yang berisi dongeng.

"Saya suka baca dan dengerin dongeng serta menonton wayang" ujar bocah berusia 8 tahun itu yang bercita-cita menjadi polisi.


Hari Dongeng Sedunia

Salah seorang pegiat seni Kie Art, Gita Yohanna Thomdean, mengatakan pergelaran wayang kartun tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang digelar Kie Art dalam rangka Hari Dongeng Sedunia yang diperingati setiap tanggal 20 Maret.

"Satu pertanyaan, kapan terakhir kali Anda mendongengkan sebuah cerita kepada anak ataupun mungkin cucu Anda? Dongeng yang berhiaskan dunia fabel ataupun cerita lainnya yang sarat dengan moral dan budi pekerti luhur," ujarnya.

Mendongeng dengan menghabiskan waktu dalam balutan emosional yang sangat erat ketika sebuah dongeng terlantun perasaan sedih, suka, ataupun gembira sehingga sangat terjalin erat hubungan orang tua dengan anaknya.

Dulu, tradisi mendongeng itu masih kerap dilakukan karena dipercaya bisa memberikan dampak positif, salah satunya dapat membentuk kepribadian dan karakter seorang anak.

Hal itu karena adanya konsistensi orang tua melakukan aktivitas mendongeng yang pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang dipelajari dan diimplementasikan. Bahkan, ketika dongeng dibacakan saat sebelum tidur, itu akan lebih membantu masuk ke dalam bawah sadar si anak sehingga dapat terekam lalu membekas.

Tradisi mendongeng, tutur Gita, sebenarnya sudah diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun dari zaman kerajaan, serta menjadi pelipur lara bagi raja, dan biasanya, pendongeng sendiri memiliki perlakuan khusus.

Sebagian dongeng-dongeng Nusantara itu banyak terukirkan pada dinding candi-candi, juga pada beberapa kitab sastra Jawa seperti Pararaton maupun berbagai peninggalan.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) hingga saat ini telah mencatat ada 945 cerita rakyat dari 34 provinsi. Jumlah itu terdiri atas 465 dongeng, 385 legenda, dan 95 mite.

Oleh karena cerita rakyat terbanyak berupa dongeng, sangat disayangkan jika tradisi mendongeng justru hampir punah di era digitalisasi. Akan menjadi berbeda ketika dongeng yang dapat dibaca di media digital dengan pendampingan orang tua karena ada nilai yang tidak dapat diukur secara kuantitatif.

Terkait dengan hal itu, Gita mengatakan Kie Art untuk kali pertama menyelenggarakan pergelaran wayang kartun sebagai bagian dari peringatan Hari Dongeng Sedunia Tahun 2023 dengan harapan dapat menjadi momentum kebangkitan bagi dongeng Nusantara.

Ia mengajak seluruh manusia Nusantara mengenal kembali berbagai dongeng yang berasal dari daerahnya, serta menggali, mengerti, dan melestarikannya kembali kepada generasi muda masa kini.

"Gerakan ini sengaja dibalut dengan pergelaran wayang yang juga menghadapi problematika yang hampir sama, yang mana antusiasme generasi muda mengalami penurunan dalam menikmati sebuah pergelaran wayang atau bahkan sebagai pelakunya," tegasnya.

Dengan memadukan dongeng dan pergelaran wayang kartun, diharapkan pesan-pesan moral yang tersirat dalam Dongeng 113 Tahun Ujungan Sidareja dapat tersampaikan serta bisa menarik minat generasi muda untuk menikmati pergelaran wayang.

Selain pergelaran wayang kartun, rangkaian kegiatan peringatan Hari Dongeng Sedunia di Kie Art juga diisi dengan pameran lukisan bertema "Dongeng Nusantara" yang digelar pada tanggal 11-20 Maret 2023.

Pegiat seni Kie Art, Slamet Santosa,  mengatakan pameran lukisan karya Pemuda Seni Kie Art itu mengangkat beberapa dongeng Nusantara dari sejumlah daerah di Indonesia yang sarat dengan edukasi moral yang baik seperti kisah Dewi Tantri, Keong Mas, Timun Mas, serta Purbasari dan Purbararang.

Dari pergelaran budaya tersebut, pengunjung diharapkan dapat bernostalgia menikmati dongeng masa lalu dengan ilustrasi indah yang tergambarkan di atas kanvas. 








 


Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2024