Kudus (ANTARA) - Sejumlah petani di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyatakan kesiapan mendukung program pemerintah menuju swasembada pangan dengan kembali menanam tanaman padi setelah saat ini mereka memilih menanam tanaman ketan.
"Hampir 80-an persen petani di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, menanam ketan karena pertimbangan produktivitas dan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga beras," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Undaan Tengah Darwoto ditemui di sela-sela meninjau panen tanaman ketan di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Rabu.
Ia mengungkapkan, pengalaman tahun lalu, harga jual gabah kering panen (GKP) tanaman ketan mencapai Rp10.500 per kilogram (Kg). Sedangkan paling rendah Rp9.000. Sementara GKP padi maksimal Rp7.800/kg.
Pertimbangan lainnya, yakni hasil produksi tanaman ketan rata-rata delapan ton per hektare untuk musim tanam (MT) pertama, sedangkan MT kedua turun sedikit. Berbeda dengan tanaman padi MT pertama hanya tujuh ton per hektare, sedangkan MT kedua tentu lebih rendah lagi.
"Dengan kalkulasi harga GKP ada selisih harga dan produksi petani akhirnya beralih ke tanaman ketan, per hektare ketika panen bagus bisa menghasilkan pemasukan hingga Rp72 juta," ujarnya.
Hal senada, diungkapkan Ketua Gapoktan Desa Undaan Lor Rohwan, hampir 80 persen petani di desanya menanam ketan karena persoalan harga dan produktivitas.
Karena saat ini ada kebijakan pemerintah dengan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram, kata dia, di pasaran ternyata melonjak.
"Hari ini (26/2), informasinya harga GKP padi mencapai Rp6.700 hingga Rp6.800 per kilogram. Sedangkan GKP ketan justru turun menjadi Rp6.400 hingga Rp6.000 per kilogram," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, kata dia, dirinya serta petani lain memang sudah menyatakan kesiapan mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah dengan kembali menanam tanaman padi pada MT kedua nanti.
Anggota Komisi B DPRD Kudus Budiyono mengakui adanya keberpihakan pemerintah terhadap petani melalui penetapan HPP gabah tanaman padi sebesar Rp6.500/kg memang menguntungkan petani, karena Perum Bulog juga diterjunkan langsung untuk menyerap gabah petani.
Hal itu, kata dia, tentunya akan berdampak positif karena pola masyarakat akan berubah untuk ikut menjaga ketahanan pangan yang diukur dari produktivitas tanaman padi.
"Jika memungkinkan, petani jangan menanam ketan semua karena pemerintah juga sudah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Undaan Alvian mengungkapkan, luas areal tanam di Kecamatan Undaan mencapai 5.685 hektare.
Dari luas tersebut, kata dia, sebagian besar ditanami ketan mencapai 4.548 hektare, sedangkan tanaman padinya hanya 1.137 hektare.
"Dengan keinginan petani kembali menanam tanaman padi, tentunya akan meningkatkan luas areal tanam padi di Kudus untuk mendukung program ketahanan pangan," ujarnya.