Logo Header Antaranews Riau

Hendry Munief Dorong Pendirian Sekolah Vokasi Industri di Riau, Soroti Kesenjangan SDM Manufaktur Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 11:38 WIB
Image Print
Anggota Komisi VII DPR Hendry Munief. (ANTARA/HO-Hendry Munief)

Jakarta, (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief meminta percepatan pembangunan sekolah vokasi industri di Riau, seraya menegaskan bahwa ketersediaan sumber daya manusia terampil menjadi faktor penentu keberlanjutan industrialisasi nasional.

‎Dorongan tersebut disampaikan Hendry Munief di Gedung DPR RI Selasa (27/1/2026) sore usai melaksanakan Raker dengan kementerian Perindustrian sebelumnya. Dorongan ini bagian momentum capaian Indonesia yang menempati posisi tertinggi di ASEAN dalam Manufacturing Value Added (MVA) dengan nilai USD 265,07 miliar pada 2025.

‎Hendry Munief mengapresiasi capaian tersebut sebagai indikator meningkatnya daya saing sektor manufaktur nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan industrialisasi tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan tenaga kerja terampil yang relevan dengan kebutuhan industri.

‎Menurut Hendry, pendidikan vokasi industri merupakan instrumen strategis untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Ia mencontohkan praktik link and match yang diterapkan di SMK Mitra Industri MM2100 serta Politeknik STTT Bandung, yang mampu memastikan seluruh lulusannya terserap industri bahkan sebelum diwisuda.

‎“Dari siswa SMK itu bahkan belum tamat sudah 100 persen diminta oleh perusahaan industri. Begitu juga di Politeknik STTT Bandung, dari 445 lulusan tahun 2025, sebelum diwisuda pun sudah 100 persen diterima industri,” ujar Hendry dalam rapat tersebut.

‎Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Riau, Hendry menilai provinsi Riau masih tertinggal dalam pengembangan pendidikan vokasi industri yang terintegrasi. Padahal, Riau memiliki basis industri strategis, mulai dari migas, hilirisasi sawit, hingga kawasan industri di Dumai dan sekitarnya.

‎Ia menyebut pemerintah daerah di Kabupaten Siak dan Kota Dumai telah merancang pengembangan pendidikan vokasi, termasuk rencana Universitas Riau berencana membuka kampus vokasi di Dumai. Namun, Hendry menekankan perlunya intervensi pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perindustrian, untuk mempercepat realisasi program tersebut.

‎“Pertanyaannya, bagaimana teknis dan percepatan dari Kementerian Perindustrian agar pendidikan vokasi ini betul-betul bisa segera diwujudkan dan menjadi solusi dalam menyiapkan SDM industri,” tegasnya.

Sekolah atau pendidikan vokasi adalah jalur pendidikan tinggi yang berfokus pada penguasaan keahlian terapan spesifik, dengan porsi praktik lebih besar dari pada teori. Tujuannya adalah menghasilkan lulusan siap kerja, kompeten, dan terampil di bidang tertentu, seperti teknik, bisnis, atau kesehatan. 

Jenjang Pendidikan Vokasi mencakup diploma, meliputi D1 (Ahli Pratama), D2 (Ahli Muda), D3 (Ahli Madya), dan D4 (Sarjana Terapan).



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026